^ Back to Top^

Search Enggine

Memuat...

0 RI Diprediksi Jadi Negara Ekonomi Terbesar ke-4 di Asia

        Saat ini Indonesia menduduki posisi ke-15 dunia dalam daftar negara-negara dengan pendapatan domestik atau GDP terbesar. Indonesia diproyeksikan masuk ke dalam daftar 10 negara ekonomi terbesar dunia dalam dekade berikutnya.

Pakar ekonomi kenamaan yang juga Vice Chairman Citi Group, Zubaid Ahmad bahkan memprediksi bahwa kekuatan ekonomi Indonesia akan menduduki posisi keempat di dunia pada tahun 2040. Demikian diungkapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan pidato dalam acara Indonesia Investment Day di gedung New York Stock Exchange, Wall Street, Senin (24/9).
"Pakar ekonomi, Zubaid Ahmad yang juga hadir pagi ini, memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi negara ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2040. Dan saya tidak berani tidak setuju dengan dia (Zubair)," kata Presiden disambut riuh tepuk tangan peserta Indonesia Investment Day.

Kegiatan Indonesia Investment Day kali ini yang pertama kalinya digelar di Wall Street. Acara ini dihadiri oleh para pengusaha top Amerika antara lain CEO IBM, CEO Honeywell, CEO Cargill, dan CEO Millennium Challenge Corporation. CEO NYSE, Duncan L. Niederarur juga turut hadir dalam acara ini.

Presiden SBY memaparkan, GDP Indonesia telah mencapai US$1 triliun. Angka ini sekitar 34 persen dari GDP Asia Tenggara dan memposisikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar di regional Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia juga memiliki jumlah penduduk ekonomi kelas menengah terbesar di level regional.

Dikatakan Presiden SBY, Euromonitor memprediksi bahwa pada tahun 2020 sekitar 58 persen penduduk Indonesia akan masuk kategori penduduk ekonomi menengah dengan penghasilan tahunan antara US$5 ribu hingga US$15 ribu. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan ekonomi China dan India.

Tidak hanya itu, kekuatan korporasi di Indonesia juga terus berkembang. Tahun lalu, perusahaan maskapai asal Indonesia, Lion Air menandatangani kontrak senilai US$23 miliar dengan Boeing. Mengacu hasil survei BBC tahun 2011 terhadap 24 ribu responden di 24 negara, Indonesia merupakan tempat yang paling disukai untuk wiraswasta.

"Saya tahu apa yang kalian pikirkan, 'Oke, Indonesia berjalan baik. Tetapi untuk berapa lama? Bisakah bertahan?' Saya percaya, bisa," tegas Presiden SBY.

Presiden mengungkapkan beberapa alasan untuk meyakinkan investor Amerika bahwa Indonesia bisa mempertahankan kondisi ekonomi yang baik. Pertama, adanya stabilitas politik. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam skala makro. Ketiga, Indonesia memiliki rencana ekonomi hingga tahun 2025 yang dinamakan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Rencana investasi dalam Master Plan dari tahun 2011-2015 nilainya sekitar US$437 miliar. Pemerintah Indonesia, perusahaan milik negara dan sektor swasta bersama-sama akan berkontribusi sekitar 65 persen dari investasi tersebut. Presiden SBY pun mengajak para pebisnis Amerika untuk menanamkan modalnya dalam rencana MP3EI.

"Saya mengundang kalian untuk melihat master plan ini, dan untuk menyertakannya dalam bisnis usaha kalian yang akan saling menguntungkan buat kita," ucap Presiden.

Dalam gelaran Indonesia Investment Day, pemerintah Indonesia dan Boeing menandatangani memorandum of agreement (MoA) kerja sama di beberapa bidang diantaranya pemberian pelatihan. Selain itu ikut ditandatangani memorandum of understanding (MoU) kerja sama antara organisasi bisnis Diasporas Indonesia dengan KADIN dan HIPMI.

Investasi di Indonesia Lebih Prospektif

Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN), Aviliani menilai bahwa gelaran Indonesia Investement Day akan membawa pengaruh positif terhadap investasi di dalam negeri. Menurut Aviliani, pimpinan Roubini Global Economics, Nouriel Roubini bahkan mengatakan bahwa investasi di Indonesia lebih menjanjikan dibanding di China dan India.

"Tadi Nouriel Roubini mengatakan apa bedanya investasi Indonesia dengan China, ternyata memang Indonesia bisa memberikan prospek dibanding China yang sudah flat untuk investasi. Di China pembangunan infrastruktur sudah stagnan bahkan mereka kelebihan," kata Aviliani ketika ditemui di sela-sela acara Indonesia Investment Day.

Aviliani menambahkan, dari sisi infrastruktur, investasi di Indonesia juga lebih menjanjikan. Pasalnya, kebutuhan Indonesia terhadap pembangunan infrastruktur masih sangat tinggi. Nilai pembangunan infrastruktur di Tanah Air mencapai Rp4500 triliun.

"Bahkan dari data Mackenzie mengatakan, kelas menengah Indonesia akan meningkat terus hingga 2030," ucap pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia ini.

Masih lanjut Aviliani, sebenarnya banyak investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Tetapi, pada tahap implentasi sering ditemui kendala di pemerintah daerah maupun pusat terkait peraturan. Selain itu di daerah juga belum ditunjang infrastruktur dasar seperti listrik untuk melakukan proyek pembangunan. 

"Investor itu sudah banyak yang ingin investasi, jadi tinggal realisasi. Kendalanya itu dalam implementasi, saat ganti kepala daerah ikut ganti peraturan," ujar perempuan berambut pendek ini.
0 Comments
Tweets
Komentar

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

[Get This]